Sakit dan Waktu Senggang

Kadangkala kita tidak sadar bahwa kesehatan dan waktu luang adalah mahal harganya. Pernyataan itu kiranya sesuai dengan hadis, “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.”

Hingga kemudian kita mencapai satu titik: sakit. Saat sakitlah yang kiranya harus membuat kita sadar akan pentingnya kedua hal itu. Beruntunglah orang yang tersadar saat sakit, dan tidak beruntunglah yang tidak memaknainya. Untuk dari itu yuk simak cerita ini.

***

Sudah dua hari tiga hari malam Anwar begadang. Apalagi kalau bukan karena permaian game di handphonenya.

Mata Anwar memang susah terpejam apalagi saat karakter video gamenya akan naik level. Video game adalah nafas kedua Anwar.

“Ahh!!” teriak Anwar sembari memegang kepalanya.
Istrinya yang sedang melakukan shalat tahajud terkaget dan langsung menuju ruang keluarga. Dilihatnya Anwar memasang wajah nestapa.

“Pak?” tegur Istrinya. Anwar hanya terdia menatap layar gadgetnya.

“Sudah Shalat?” lanjut Istrinya. Anwar hanya terdiam menatap layar . Mata istrinya kemudian menyusur ke piring di meja hadapan suaminya.

Terlihat nasi dan lauk yang kini dikerubungi oleh lalat. Istrinya kemudian bertanya, “Sudah makan?” Namun bukannya menjawab istrinya, Anwar malah menarikan jejarinya di atas gawai.

“Besok… ”

“Libur! Gak ada kantor yang buka!” potong Anwar ketus.

Matanya menikam sang istri, memberi tanda terusik yang sangat. Istrinya sadar akan dua hal. Pertama, Anwar berbohong karena besok adalah hari senin dan bukan tanggal merah. Kedua, kelakuan Anwar bukanlah tanpa alasan.

Semenjak dua tahun ini memang Anwar adalah pengangguran: diberhentikan dari pekerjaannya, maklum perusahaan tempatnya bekerja kolaps karena kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Video game menjadi tempat pelarian Anwar. Bukan hanya tidur saja yang dia lewati, terkadang makan malam pun dia lewatkan hanya untuk mengurusi video gamenya.

Kini Sang Istri melihat suaminya yang ceking dengan kesedihan yang menumpuk di sudut matanya. Dia merasakan tekanan yang Anwar rasakan, tapi tak tahu harus berbuat apa. Setahu Istrinya, Anwar tidak sekaras dan sekurus itu.

Perubahan itu menyedihkan sekaligus menyengsarakan pikir sang istri.

“Pak, kalau ada masalah shalat lah, serahkan semuanya pada yang kuasa.” Namun sepertinya saran sang istri mental seketika dalam kekosongan yang Anwar beri. Hanya suara tekanan jemari Anwar yang semakin kuat mengisi keheningan itu.

Sang Istri kemudian beralih kembali ke dalam kamar. Sedangkan Anwar terus memainkan jemarinya di atas layar gadget. Jam demi jam berlalu. Tak terasa sudah pukul tiga menjelang subuh. Anwar masih belum bergeser dari sofa di ruang keluarga.

Tiba-tiba kepala Anwar terasa pening, dia kemudian menuju kamar mandi. Perasaan tidak enak itu mengalir ke perutnya, seakan ada lahar yang hendak melesak. Dia muntahkan seluruh isi perutnya. Dua kali.

Dengan lemas ia berjalan menuju kamarnya. Di sana Sang Istri telah terbangun. Dengan gegas sang istri menyambut Anwar.

“Kenapa, Pak?”

Sang Istri kemudian memegang ubun-ubun suaminya.

“Paling masuk angin,” balas Anwar.

“Paling besok sudah turun kok. Sudah kamu tidur sana.”

Anwar melambaikan tangan menolak saat istrinya hendak memijatnya.

Malampun berlalu, namun demam Anwar sepertinya bukanlah angin lalu. Pagi itu, demamnya kian meninggi. Beberapa kali dia juga harus keluar masuk toilet memuntahkan isi perutnya. Tubuhnya lemah, selunglai dedaunan. Ucapannya menjadi tidak jelas. Wajahnya tidak simetris.

Di tengah sakitnya, gadgetnya masih hendak diraihnya. Beberapa kali istrinya melarangnya mengurusi video gamenya. Namun selalu dibalasnya terbata-bata, “Sudah mau naik level, nanggung.”

Seluruh isi perutnya menolak makan atau minum. Tiap kali masuk pasti dimuntahkannya kembali. Hingga kini dia tidak sanggup memegang gadgetnya. Terkapar, tak sadarkan diri.
Sang Istri panik, kemudian membawanya ke rumah sakit.

Di rumah sakit, cairan infus melesak masuk pergelangan tangannya. Selang oksigen menempel di cuping hidung.

Sang dokter datang dan memberi tahu bahwa Anwar terkena stroke dan dibawa ke ICU. Istrinya terkejut bukan main. Suaminya kemudian disarankan soal mengurangi porsi main gamenya yang menjadi penyebabnya.

Sehari berlalu, dan Sang Suami mulai perlahan sadar, matanya mulai membuka. Betapa lega sang istri diiringi ucap syukur kepada Allah. Anwar menggerakkan jemarinya memberi kode untuk istrinya mendekat.

“Mana hapeku? sudah.. mau naik level,” bisiknya ke telinga istrinya.

Tags: , ,

Leave a Reply

KANTOR PUSAT LKC – LAYANAN KESEHATAN CUMA CUMA

Gedung LKC
Ciputat Mega Mal Blok D-01
Jl. Ir. H. Juanda No 34
Ciputat 15414

Telp.        : 021 – 7416262
Fax.         : 021 – 7416171
Website  : lkc.dompetdhuafa.org

HOTLINE KERJASAMA

  • Santi Deliani,
    [0878-8123-6630(Whatsapp)]

Nomor Rekening Donasi

Bank Mandiri BNI Syariah Bank Central AsiaBank Muamalat

KANTOR PUSAT LKC

Gedung LKC
Ciputat Mega Mal Blok D-01
Jl. Ir. H. Juanda No 34
Ciputat 15414

Telp.        : 021 – 7416262
Fax.         : 021 – 7416171
Website  : lkc.dompetdhuafa.org