Maaf Danan untuk Bapak

Sahabat, apakah seringkali sahabat bersitegang dengan orangtuanya? Berbeda pendapat atau merasa tidak sesuai dengan tindak tanduk mereka.

Yang jelas sebuah hadis mengingatkan kita akan pentingnya ridho orangtua. “Ridho Allah tergantung ridho kedua orangtua dan murka Allah tergantung murka kedua orangtua.”

Cerita ini adalah lanjutan kisah tiap Jumat kami, Jumat Sehat Wal Afiat. Kali ini memasuki edisi kedua dan masih mengangkat kisah Keluarga Anwar.

Yuk mari kita simak cerita bersambung edisi kedua ini.

Danan sadar bahwa kehancuran seorang lelaki dimulai dari kegagalan meraih mimpi.

Di depan kedua matanya, kiamat itu seakan tersaji dalam sebuah surat ancaman drop-out dari pimpinan institusinya.

“Kuliahmu sudah dua tahun, Nak. Saya kira kau tahu kan aturan akademik, evaluasi empat semester,” papar Gus Nuh, rektor Institusi Ilmu Perdukunan.

Nama rektor sebenarnya Nukhtar Mucharomah, tapi dia lebih senang dipanggil Gus Nuh. Bahkan oleh mahasiswanya.

“Iya, Gus. Gus kan tahu kalau saya tiap malam nyambi di praktek. Paginya urus proyek penelitian Prof. Pepen. Kalau tidak begitu bagaimana bisa lanjut kuliah, Gus.” tutur Danan sembari mengerutkan kening.

“Aturan tetap aturan, Nak. Sekalipun dirimu bersama seorang guru besar.”

“Tapi aturan dibuat untuk memudahkan para pengikutnya kan, Gus?” potong Danan. Kemudian dia melanjutkan, “Apakah begini cara salah satu kampus terbaik di negeri ini memperlakukan mahasiswa yang telah mengukir Institusi di tingkat nasional?”

“Kamu kira Hakim dan Umay tidak cukup mengangkat nama kampus ini?”

Danan tidak bisa membantah. Dia teringat seniornya, Hakim dan Umay yang setahun lalu di drop out. Keduanya adalah peraih juara di Olimpiade Ilmu Kebal Se-Asia Tenggara. Dia menyadari gelar itu tak sebanding dengan torehannya, Juara tingkat nasional menghapal Kitab Negarakertagama.

Gus Nuh meraba lehernya, sembari memandangi surat yang memperlihatkan tanda tangannya.Beberapa kali dia berdeham. Diteguknya segelas air di mejanya, meredakan dehamnya itu.

“Nak, saya tahu kamu bukanlah calon dukun yang malas. Prestasimu di kampus cukup bagus. Tapi kami harus adil, terlebih dengan aturan.” Gus Nuh berusaha memelankan suaranya.

Mata Danan berpaling dari surat yang ada di hadapannya. Dia menatap gelas air di meja. Sayangnya pikirannya tidak sejernih apa yang ditatapnya itu.

“Kami masih memberikan kompensasi, coba bacalah lembaran itu,” kata Gus Nuh.

Selang beberapa menit, Danan membaca lembaran tersebut. Di halaman akhirnya, wajahnya menjadi tegang.

“Kami butuh persetujuan orangtuamu, Nak. Sebagai jaminan kamu akan menyelesaikan studi di semester ini.”

“Tapi, Gus, saya dengan Bapak saya..”

“Iya saya tahu, Nak.” Gus Nuh memandangi Danan lekat-lekat.

“Kadangkala mengucapkan maaf bukan berarti kalah, Nak. Apalagi kepada orangtuamu sendiri.” Gus Nuh menepuk pundak Danan.

Ingatannya memburu pada suatu hari yang tersilam.

***

Kaki Danan tiada lelah berlari pulang ke rumah. Di tangannya terapit sebuah pengunguman yang menjadi dambaannya sedari kecil.

“Mak.. Mak…,” teriaknya di penghujung pintu rumahnya.

“Mak, anakmu lolos tes masuk Institusi Ilmu Perdukunan.” Danan membuka kebahagiaan itu lewat sebuah halaman yang menunjukkan namanya: Danan Anwar.

Mak kemudian menyambut suka cita itu dengan beberapa kali mengucap syukur kepada Allah.

“Alhamdulillah ya, Nan. Akhirnya di keluarga ini ada yang bisa kuliah.” Mak kemudian memeluk Danan.Tapi kebahagiaan itu lantas berlalu.

Braaak! Pintu terbanting keras. Sosok Sang Bapak berdiri di daun pintu kamar.

“Mau jadi apa kamu? Dukun?” sergah Sang Bapak. Danan dan ibunya bergeming.

“Sudah ku bilang. Harusnya kau ambil Kedokteran. Itu lebih mulia.” Suara bapaknya mulai meninggi. Tanpa sadar Danan mulai terbawa.

“Pak, ini pilihan saya. Kan, bukan Bapak yang kuliah,” geram Danan.

“Tapi tetap kamu yang minta aku yang biayai kan?” balas Anwar.

Bapak kemudian menarik paksa lembaran koran pengunguman tes itu dari tangan istrinya. Dilemparkannya koran itu ke wajah anaknya. Wajah Danann memerah.

“Ogah aku punya anak yang memakai namaku di belakang namanya jadi dukun, profesi yang dimurkai Allah!”

“Daripada punya bapak seorang amil zakat yang tidak jelas! Maaf Pak, saya tidak butuh uangmu!” hardik balik Danan.

Mata Danan dan bapaknya beradu. Danan merasakan percik api di mata bapaknya. Tiba-tiba api itu membesar lewat sebuah tangan berayun ke pipi Danan. Panas.

“Pak!” teriak ibunya sembari menghalangi sang suami bertindak lebih agreseif kepada anaknya.

Bukan tamparan yang menyakitkan hati Danan, tapi karena nyatanya justru dia lelah diperlakukan seperti itu oleh ayahnya. Dia berlari dari rumah, dan berharap tak pernah kembali.

***

Harapan itu perlahan meluruh lewat sebuah surat yang membutuhkan tanda tangan orangtuanya. Ada trauma yang mendadak hadir.

Dia mengecek gawainya. Terlihat tumpukan telepon ibunya yang sejak dua tahun ini tak pernah sekalipun dia angkat. Lamat-lamat, panggilan pulang itu semakin nyata. Terlebih dengan pesan ibunya yang tersimpan di kotak masuknya kemarin.

“Nan, di mana? Bapakmu di rumah sakit. Dia ingin sekali melihatmu. Dia di Rumah Sakit. Aku tunggu kabarnya, Nak.”

Dilema itu melebarkan jurangnya. Danan berkali-kali menghela napas berusaha mengusir sesak.

Teleponnya lagi-lagi berbunyi. Kali ini dari seseorang yang bisa membuat hatinya merekah lagi, Uswah. Disitu dia menanti harapan dari percakapan yang singkat bersama Uswah.

“Assalamualaikum, Mas Dan, di mana?”

“Saya lebih dekat dari urat lehermu, Us.” Keduanya cekikikan.

“Mas Dan belum kunjungi bapaknya?”

“Entah.”

“Mas Dan, pilihlah yang terbaik. Aku tahu kok, Mas Dan pasti tahu yang terbaik untuk dirinya.” Perkataan itu membuat Danan berpikir dan menyambut sebuah harapan. Nun di ufuk sana.

Tags: ,

Leave a Reply

KANTOR PUSAT LKC – LAYANAN KESEHATAN CUMA CUMA

Gedung LKC
Ciputat Mega Mal Blok D-01
Jl. Ir. H. Juanda No 34
Ciputat 15414

Telp.        : 021 – 7416262
Fax.         : 021 – 7416171
Website  : lkc.dompetdhuafa.org

HOTLINE KERJASAMA

  • Santi Deliani,
    [0878-8123-6630(Whatsapp)]

Nomor Rekening Donasi

Bank Mandiri BNI Syariah Bank Central AsiaBank Muamalat

KANTOR PUSAT LKC

Gedung LKC
Ciputat Mega Mal Blok D-01
Jl. Ir. H. Juanda No 34
Ciputat 15414

Telp.        : 021 – 7416262
Fax.         : 021 – 7416171
Website  : lkc.dompetdhuafa.org