Hijrah Sebuah Kota

“Pak, sudah mau sampai.”

Suara itu membuka mata Danan. Angin dari jendela bis menghembuskannya kesadaran. Juga aroma asin laut yang mengabarkan bahwa dia telah berada di asalnya, Kota Lekace.

Kota yang terbangun dari belaian lautan, rangkulan perbukitan, dan remah kenangan.

Di luar jendela Danan, sebuah prasasti kebanggaan kota ini terlihat dari lereng bukit. Dua patung itu terlihat hendak menantang lautan.

Seorang lelaki yang kaku dengan balutan jubah panjang dengan tongkat di tangan kanannya, di sampingnya seorang perempuan terlihat. Itulah Tuan Parno, sang pendiri kota ini bersama anaknya, Septi Setiadi.

Danan yang biasa mengunjungi prasasti itu bersama ayahnya, mengingat bahwa di bawah patung itu tertulis “Lekace, Kota yang Berhijrah”. Danan merasakan itu.

***

Di sebuah masa pemerintahan negara ini, seorang presiden yang melewati seperempat abad berkuasa di negara ini sangatlah mempercayai perihal-perihal gaib. Salah satunya adalah dukun.

Adalah Tuan Parno dan Tuan Elmon duet dukun kepercayaan sang presiden. Keduanya terkenal dengan kemampuannya menyembuhkan segala macam penyakit.

Lewat segelas air yang telah mereka tiupkan konon sakit sang presiden tersembuhkan. Konon lewat sebuah kalung yang mereka beri mantra, semua segan dan takut pada sang presiden.

Jasa-jasa besar kedua dukun ini dalam keabadian sang presiden. duo ini diberikan sebuah daerah di pinggiran jauh dari ibukota sebagai apresiasi.

Di daerah tersebut, sang presiden mengharapkan agar para dukun dapat beranak-cucu, juga menjadi tempat para orang-orang yang ingin belajar tentang ilmu gaib dan penyembuhan.

Tanah itu diambil secara berdarah dari para pemiliknya yang sebagian besar pengikut partai terlarang di negara ini, saat awal sang presiden berkuasa. Tuan Parno ditunjuk sebagai pimpinan desa, Desa Lekace.

Desa tersebut menjadi pusat pengembangan dan studi perdukunan di negeri ini. Ratusan dukun penyembuh bersertifikasi dilahirkan lalu kemudian disebar ke seantero negeri ini. Desa ini menjadi daya tarik di sektor lainnya.

Tempat-tempat bersemedi membuat turis dan orang yang mencari “ilmu” mampir ke desa ini. Toko-toko yang menjual sesajian dan perangkat magis dikunjungi baik turis dalam dan luar negeri. Hingga rumah-rumah belajar ilmu perdukunan dibuka di tiap dusunnya.

Desa ini juga terkenal dengan pemakmurannya terhadap orang-orang terlantar, salah satunya dengan meminjam salah satu ajaran agama mayoritas negara ini: zakat, infaq, sedekah, dan wakaf.

Orang-orang yang bekerja di sektor ini menjadi kasta kedua dibawah dukun disebut sebagai amil zakat. Para dukun alumni desa ini senantiasa menyalurkan sumbangannya lewat amil zakat ini, maklumlah dukun profesi pemanggil pundi di masa itu.

Desa ini lambat laun menjadi pesat. Gedung-gedung, investasi, dan usaha-usaha lokal mulai memperkokoh kemandirian desa ini.

Hingga kemudian desa ini bertransformasi menjadi sebuah kota. Pun kepemimpinan kota ini berganti dari Tuan Parno yang mangkat ke Tuan Elmon.

Perubahan paling besar di kota ini, saat sang presiden menyambut senjakalanya. Saat lebih tiga puluh tahun berkuasa, sang presiden ini diturunkan oleh para anak muda.

Pun di kota ini, anak Tuan Parno, Septi Setiadi seorang dokter lulusan Inggris—juga turut menggulingkan sang presiden—datang ke kota ini. Dia menganggap praktek perdukunan kolot, tidak akademis, hingga jauh dari nilai luhur agama.

Lewat provokasi terhadap kaum-kaum muda, rangkaian demonstrasi akhirnya berhasil menggulingkan Tuan Elmon. Septi akhirnya mengambil alih tampuk kekuasaan Kota Lekace.

Sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan perdukunan ini lalu dianggap terlarang, anak dan keluarga para dukun diburu, ditahan, hingga dirukiah.

Toko-toko menjual sesajian, dupa, totem, dan lain-lainnya ditutup dan tentu barang-barangnya dimusnahkan. Tuan Elmon dan para dukun pengikutnya banyak yang menghilang entah ke mana.

Sebagian menyebutkan mereka dipenjara seumur hidup, rumor lainnya mereka melarikan diri ke pedalaman nun jauh di sana.

Perguruan-perguruan dukun itu berubah menjadi kampus-kampus kedokteran. Tiap sudut kota ini diisi oleh kampus kedokteran, tempat anak-anak muda berjibun untuk menjadi dokter.

Profesi dokter inilah yang mengganti peran dukun sebagai aset kota ini. Disusul juga dengan industri-industri lainnya, dari obat-obat kimia, peralatan medis, hingga kaos bertuliskan “I love Lekace, I love Dokterku” atau “Aku Ingin Jadi Dokter”.

Hingga hari ini, Septi mengklaim dirinya melakukan hijrah pada kota ini dengan semboyan, “Lekace, Kota yang Berhijrah”.

***

Kaki Danan telah menapaki rumah sakit sesuai petunjuk ibunya. Di pesan terakhir ibunya, Danan diberitahu di kamar mana Anwar dirawat.

Di depan meja batu, seorang berbaju putih sedang terlihat sibuk dengan map-map di meja dengan gawai yang menyisip di telinga.

“Mas,” sapa Danan kepada dokter yang bertuliskan namanya, Tomi Defri. Sang dokter kemudian meletakkan gawainya lalu membalas dengan tatapan setajam sembilu.

“Panggil saya, ‘Dokter’, Mas.” Danan merasa kurang nyaman.

“Oh iya, Dok. Pasien atas nama Anwar dirawat di kamar mana ya?”

“Tanya susternya, Mas.” Sang dokter kemudian disibukkan kembali dengan teleponnya.

Atas petunjuk seorang suster, Danan telah berada di sebuah kamar. Di ujung dipan kamar itu, dua sosok dikenalnya terpaut. Sang ibu terlihat menyuapi makan sang suami yang lemah di brankarnya.

“Mak, Pak.”

Kedua sosok itu melayangkan pandangan ke arah Danan. Dan saat itu Danan merasa berhijrah, dari kebencian ke kerinduan.

Tags: , ,

Leave a Reply

KANTOR PUSAT LKC – LAYANAN KESEHATAN CUMA CUMA

Gedung LKC
Ciputat Mega Mal Blok D-01
Jl. Ir. H. Juanda No 34
Ciputat 15414

Telp.        : 021 – 7416262
Fax.         : 021 – 7416171
Website  : lkc.dompetdhuafa.org

HOTLINE KERJASAMA

  • Santi Deliani,
    [0878-8123-6630(Whatsapp)]

Nomor Rekening Donasi

Bank Mandiri BNI Syariah Bank Central AsiaBank Muamalat

KANTOR PUSAT LKC

Gedung LKC
Ciputat Mega Mal Blok D-01
Jl. Ir. H. Juanda No 34
Ciputat 15414

Telp.        : 021 – 7416262
Fax.         : 021 – 7416171
Website  : lkc.dompetdhuafa.org