Bantu Mualaf ini Agar Berjalan Kembali

Seorang lelaki Tionghoa menyambut kedatangan Tim Respon Darurat Kesehatan (RDK) LKC Dompet Dhuafa di sebuah kamar kos di daerah Sunter, Jakarta Utara. Sekilas lelaki asal Semarang itu tidak mengalami masalah apa-apa, namun ketika mulai berjalan, terlihat lututnya bergetar. Ukuran kakinya juga mengecil tanpa lekukan, mengingatkan pada ranting pohon jambu. Winata Wijaya (44) seorang peranakan Tionghoa yang kini menjadi mualaf.

Semua berawal dari tahun 2007, ketika dia bekerja sebagai teknisi listrik di Semarang. Saat itu dia mengerjakan plafon, tiba-tiba tangganya rubuh dan dia terjatuh. Konsekuensinya, tulang belakang dan kakinya remuk. Dia dipasangi pen dan menjalani perawatan.

Namun di tengah perawatan, ketidakmampuan secara ekonomi menjadikan dia harus berusaha menanggung biaya perawatan. Tepat di tahun sama, dia kemudian berobat ke Gorontalo lewat ajakan temannya. Di sana pula dia mendapatkan hidayah dari sebuah mimpi sehingga resmi memeluk Islam.

“Malam itu saya merasa mendapatkan hidayah saat tidur, di sana saya lihat, saya mampu berdiri,” tuturnya pada Tim RDK Dompet Dhuafa.

Perjalanan panjang semangat untuk berobatnya juga membawa ke Bengkulu, di tempat itu dia mendapatkan perawatan alternatif, namun tidak efektif. Di tahun 2017, dia mendapatkan janji untuk pengobatan di Jakarta, namun hingga hari ini janji itu hanyalah janji tanpa jelas kepastiannya. Dia hidup sebatang kara, tanpa keluarga yang merawat.

“Keluarga saya terpisah dari kecil, maklum saya ini dari keluarga broken home dan saya sudah bercerai,” lanjutnya.

Kini dengan bantuan rekannya, Winata dapat tinggal di sebuah kosan di daerah Sunter, sambil mencari bantuan untuk perawatan dan biaya hidup selama di Jakarta.

***

Tim RDK, Sigit BJ Sudrajat, kemudian menjemput Winata untuk dibawa ke Rumah Sakit Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa, Parung Panjang, di sana dia diperiksa di dokter.

“Pak Winata sudah menjadi perhatian kami beberapa waktu ini, dia seorang mualaf yang perlu dukungan moral,” papar Sigit.

Di sana dia diduga mengalami fraktur kompresi pada tulang belakangnya. Saat itu dia disarankan untuk dirujuk ke dokter ortopedi, di situ dia juga diarahkan untuk mempersiapkan BPJSnya. Dia hanya tertegun saat mendengar itu. Dia menuturkan,

“BPJS saya sudah mati, sudah setahunan belum bisa dibayar,” tuturnya sambil menelan ludah.

Winata kemudian meninggalkan rumah sakit dengan membawa sekantong obat-obat resep dari dokter tersebut, dengan sejumlah pertanyaan mengenai cara agar dapat sembuh.

“Saya memiliki mimpi kalau sudah sembuh, saya akan mencari uang untuk mendirikan pesantren,” ujarnya sembari menunduk.

Mari membantu Winata untuk berjalan dan mewujudkan mimpi-mimpinya. Informasi dan konfirmasi lebih lanjut dapat menghubungi Respon Darurat Kesehatan (RDK) Dompet Dhuafa: 08111617101.

Leave a Reply