Dokter Kece dan Obat Expire

Di sebuah kampung terpencil Lekace. Di sana  ada seorang dokter, bernama Dokter Kece. Dia selalu mewasiatkan kepada perawatnya, Umai dan apotekernya, Abbas agar senantiasa memberikan perawatan terbaik. Dia selalu meminta kepada para langganannya agar diberitahukan kalau ada masalah dalam perawatannya dan pelayanan kliniknya. Setiap kali ada pasien, ia meminta untuk tidak sungkan untuk kembali bila ada keluhan.

Suatu hari, seorang bapak yang sedang dalam perjalanan jauh datang ke prakteknya karena demam. Pada waktu itu sang apoteker memberi obat menurut pemahamannya tanpa melihat waktu expire obat tersebut.

Tidak lama kemudian, Dokter Kece datang dan menanyakan perihal obat yang cacat tersebut. Maka dijawab, “Obat itu telah dibeli oleh seseorang, Dok.”

Lalu Dokter Kece mengecek sekotak obat tersebut, betapa terkejutnya bahwa obat itu telah expire. Ditunjukkan obat tersebut kepada sang apoteker.

“Eh, dia udah ngecek expire obat gak?,” tutur Dokter Kece. Lalu dijawab, “Nggak.” Dokter itu kemudian bertanya lagi, “Sekarang mana dia?” Dijawab kembali, “Sudah pergi naik bus ke arah sana, Dok,” sembari menunjuk arah.

Seketika itu pula, sang dokter membawa selembar uang lima ribu rupiah–seharga obat tersebut–dan obat lainnya yang tidak expire. Menggunakan motor bebeknya dia mencari orang yang dimaksud dan baru mendapatinya setelah menempuh perjalanan setengah hari, di sebuah warung pemberhentian.

Saat obat kapsul tersebut hampir melalui kerongkongannya, Dokter Kece langsung berteriak,

“Pak, tempo hari kamu telah membeli obat di apotekku. Punten, Pak, ini saya bawakan obat yang masih bagus.” Bapak itu balas menjawab heran, “Kok, bisa datang sejauh ini?”

Lelaki itu menimpali, “Saya selalu diajarkan, ‘siapa yang menipu bukan berasal dari umatku.’
Bapak itu balik menimpali, “Terima Kasih.” Si bapak tersebut kemudian mengambilkan seikat uang seratus ribu rupiah. Dokter Kece seakan menolak, namun si bapak berujar, “Ambil saja, Dok. Sekarang susah orang jujur.”

Dokter itu kemudian pulang, di kliniknya dia disambut Muchtar, polisi di kampungnya.

“Siang Dok, kenal orang ini? Dia buronan, pelaku penipuan dan penggelapan,” tutur Pak Muchtar sembari menunjukkan gambar wajah bapak yang dikenalinya.

Dokter Kece tersenyum kecut.

Disadur dari: 100 Kisah Teladan Tokoh Besar; Muhammad Said Mursi & Qasim Abdullah Ibrahim

Leave a Reply