Derita Manusia Perahu Pasca Penggusuran di Kampung Luar Batang

warga kp luar batangLKC.DOMPETDHUAFA.ORG – (JAKARTA) – Lebih dari seratus kepala keluarga bertahan tinggal di dalam perahu-perahu yang sengaja mereka tambat dibibir pantai. Seluruh warga korban penggusuran di Kampung Luar Batang, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara itu bahkan akan tetap tinggal dalam perahu selama belum ada kompensasi ganti rugi atas bangunan rumah yang kini rata dengan tanah.

Ramainya perahu yang digunakan sebagai tempat tinggal bukan tanpa alasan bagi mereka, meski dengan kondisi ini mereka menyandang nama Manusia Perahu. Bahkan mereka akan terus bertahan, dan tidak beranjak dari bekas rumah yang selama ini telah mereka tempati.

“Memang status hak milik tanah kita menurut hukum tidak kuat, namun bagaimanapun rumah yang kita tempati dibangun dengan hasil jerih payah sendiri, masa tidak ada kebijaksanaan banget,” ujar Jamal,63 tahun, salah satu korban yang kini beserta keluarganya tinggal di dalam perahu itu

Korban penggusuran yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI. Jakarta itu bahkan mengancam akan tetap bertahan hingga ada keputusan dana penggantian yang layak bagi mereka yang rumahnya telah rata dengan tanah.

“Kita sudah lebih dari satu minggu tinggal di perahu, cuman sampai saat ini belum ada pihak puskesmas yang mengontrol kondisi kesehatan warga disini, mereka pada takut barangkali,” kata Jamal saat ditemui ketika berobat dalam Aksi Layan Sehat yang digelar LKC Dompet Dhuafa, Selasa (19/04)

Meski hanya menggunakan sarana tempat diatas perahu milik salah satu nelayan. para warga yang umumnya telah tinggal lebih dari 30 tahunan di bantaran kali itu berdatangan untuk mendapatkan fasilitas kesehatan yang didapat secara gratis.

Seperti halnya Jamal, salah seorang pedagang ikan yang turut menjadi korban penggusuran, Rudi (42) mengeluhkan, rumah susun (rusun) sebagai pengganti yang disediakan oleh Pemprov DKI Jakarta tidak mendukung usaha mereka karena jaraknya terlalu jauh.

“Kami membangun rumah itu habis dana lebih dari seratus juta, masa gak dapat apa-apa, dan kami diusir dari rumah sendiri, pemerintah katanya menyediakan rusun cuman tempatnya jauh dari lokasi kami usaha,” ungkap Rudi.

Rudi mengakui sebagian warga masyarakat ada yang sudah menempati rusun yang disiapkan Pemprov DKI Jakarta tersebut, namun mereka rata-rata warga pengontrak yang tidak memiliki rumah sendiri. (gm/mj)

Leave a Reply