Fenomena Ziryab dan Kemunduran Umat Islam

sejarah islamLKC.DOMPETDHUAFA (HIKMAH) – Kisah kejayaan umat Islam dari masa Nabi Muhammad saw di Madinah yaitu tahun 622 M sampai dengan berakhirnya kekhalifan Turki Utsmani pada tahun 1924 selalu menjadi kisah penyemangat untuk seluruh umat Islam, bahwa Islam pernah berjaya selama 1200 tahun lebih.

Janji Allah seperti disebutkan dalam surat Ali Imron ayat 110 bahwa umat Islam adalah umat terbaik (khoiru ummah) harus diulang kembali oleh generasi umat Islam sekarang. Tiga syarat disebutkan dalam ayat tersebut menjadi pilar kebangkitan ummat yaitu beriman, amar ma’ruf dan nahi munkar. Tiga pilar tersebut sudah dilakukan umat Islam dari jaman Nabi Muhammad sampai sekarang, tetapi mengalami perbedaan secara kualitas, sehingga mempunyai hasil yang berbeda, semakin baik kualitas iman, amar ma’ruf dan nahi munkar maka Islam akan dapat kembali berjaya.

Sebab Kemuduran Islam

Kajian tentang kemunduran umat Islam cukup banyak dilakukan oleh tokoh-tokoh Islam, seperti yang dilakukan Ibnu Khaldun, Amir Syakib Arsalan, Syeikh Yusuf Qardhawi dan Dr Roghib Al Sirjani. Uraian yang mendalam tentang kemunduran umat Islam dan cara agar kembali bangkit telah dibahas, perlu strategi dan perjuangan yang sungguh-sungguh untuk mewujudkannya.

Penyebab kemunduran Islam menurut para ulama tersebut adalah melemahnya iman, jauh dari Al Quran dan hadits, kebobrokan akhlaq pemimpin dan rakyat, korupsi, hedonism, materialism dan lain-lain.

Dari sekian banyak sebab kemunduran tersebut terdapat satu hal yang sangat menarik yaitu tentang kisah Ziryab. Dr Raghib Al Sirjani menyatakan tentang fenomena Ziryab dalam kemunduran Islam. Ziryab adalah seorang pemusik yang berasal dari Baghdad (Iraq), dia berpindah ke Andalusia dengan harapan dapat mengembangkan seni dan mendapatkan kehidupan yang makmur.

Ziryab mengembangkan lagu-lagu, tari-tarian dan model pakaian empat musim serta masalah fashion lainnya. Gerakan Ziryab mendapatkan sambutan yang meriah dari pihak kesultanan maupun masyarakat, sehingga memunculkan fenomena baru di masyarakat Andalusia. Gedung kesenian dan hiburan dipenuh oleh penonton. Pemerintah dan masyarakat disibukkan dengan nyanyian yang cengeng, tarian-tarian yang melenakan dan fashion yang menyibukkan. Dampak nyata dari hal tersebut adalah majelis-majelis ilmu, majelis Al Quran, hadits dan olah raga yang menguatkan jiwa satria seperti beladiri, memanah, berkuda dan lain-lain menjadi melemah.

Secara perlahan dan pasti fenomena Ziryab tersebut merubah karakter umat Islam, jiwa ulama dan pejuang mulai tercerabut dan menjadi manusia-manusia lemah iman dan cengeng, pengecut, penakut.

Amir Syakib Arsalan dalam bukunya Limadza Ta’akhara al-Muslimuna wa Limadza Taqaddama Ghairuhum (Mengapa orang-orang Islam Terbelakang dan Mengapa orang Lain Menjadi Maju) menyebutkan bahwa salah satu penyebab kemunduran dan kehancuran umat Islam adalah karena umat Islam menjadi berjiwa penakut dan pengecut. Jiwa mujahid telah terserabut, sehingga banyak kisah umat Islam tidak berani dalam berjihad ketika diserang oleh musuh.

Puncak dari Fenomena Ziryab ini adalah runtuhnya Andalusia dari serangan tentara Katolik yang digerakan oleh Isabela dan Ferdinand. Kejayaan Islam di Andalusia runtuh pada tahun 1459 setelah berjaya dari tahun 711. Delapan ribu lebih umat Islam dibantai dan diusir sehingga umat Islam di Andalusia hilang, dan tergantinya kerajaan Spanyol dan Portugal yang beragama Katolik.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Sebuah musibah yang sangat dahsyat menimpa umat Islam, dan akhirnya benteng terakhir umat Islampun runtuh pada tahun 1924, ketika kekhalifahan Turki Utsmani dikalahkan oleh musuh-musuh Islam.

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al-Israa”: 16)

Kisah sedih dan pilu umat Islam yang terus mengalami kekalahan, penyiksaan, pembunuhan oleh musuh-musuh Islam terus berlangsung sampai sekarang. Kisah pilu di India, Boznia, Palestina, Afghanistan, Irak, , Mianmar, Patani Thailand, Moro Pilipina, Afrika Tengah dan lain-lain menjadi saksi akan kelemahan umat Islam.

Kisah pilu dan penderitaan yang dahsyat tersebut harus segera diakhiri. Umat Islam harus bangkit, kembali kepada Islam secara kaffah menjadi solusi utama. Penguatan imam, kembali kepada Al Quran, hadits, menguatkan akhlaq, ukhuwah, ekonomi, politik, militer dan juga tidak lupa adalah tidak terlena dengan fenomena Ziryab dengan menjauhi musik, tari, fashion, game dan hiburan-hiburan lain yang melemahkan. Mensibukkan diri dengan ilmu, amal sholeh, ukhuwah Islam, latihan fisik seperti lari, beladiri, memanah, berenang dan lain-lain yang bermanfaat untuk mengembalikan Islam yang jaya. Allahu Akbar.

Oleh : Herman Budianto, MSi (Direktur Yayasan Kesehatan Dompet Dhuafa)

Leave a Reply