Hakikat Berbagi yang Tak Pernah Rugi

berbagi-lkc-ddMelintasi kemasa lalu dalam sejarah nabi. Ketika disuatu petang usai perang Uhud Rosululloh saw mengutus sahabat setia beliau, Umar bin khatab ra. Umar diperintahkan untuk memimpin membereskan sisa-sisa perang uhud. Kala itu Umar ditugaskan untuk mengevakuasi korban perang  yang masih dapat diselamatkan.

Tiba dibukit Uhud, sayup-sayup terdengar oleh Umar rintihan salah seorang sahabat. “Ya Alloh, hamba haus..haus…,”. Segera Umar bin khatab bergegas mencari darimana datangnya suara tersebut. Ternyata dari salah seorang sahabat yang kakinya tak dapat digerakkan karena luka parah tertebas pedang  musuh.  Segera oleh Umar diberikan minum dari bulibuli yang dibawanya.

Namun apa yang terjadi, saat bibir sahabat tadi hendak ditempelkan dengan mulut bulibuli air terdengar suara rintihan lain,“Ya Rabb tolonglah hamba, aku haus… aku haus,”. Sontak saja sahabat yang akan diberi minum oleh Umar menolak sambil beruja,”Wahai umar berikan air ini untuk saudaraku itu barangkali dia lebih membutuhkan”. Umar pun memenuhi permintaan sahabat itu dan ia mencari suara merintih yang kedua. Benar saja, sahabat yang kedua ditemui mengalami luka lebih parah selain kaki sebuah lengannya pun tertebas pedang. Namun saat hendak diberi minum oleh Umar terdengar suara rintihan yang ketiga “Ya Allah penguasa langit dan bumi hamba haus.. haus…,”.

Lagi lagi sahabat kedua yang ditemui Umar pun menolaknya,”Berikan saja air ini untuk saudaraku itu barangkali ia lebih membutuhkan”. Pintanya. Segera Umar memenuhi permintaan terakhir itu, ditelusurilah suara rintihan ke tiga dan benar sahabat ketiga yang ditemui Umar lebih menyedihkan dari kedua sahabat sebelumnya selain lengan dan kakinya tertebas pedang musuh perut dan dadanya juga tertusuk panah. Walhasil sebelum diminumkan oleh Umar sahabat tadi telah menemui syahidnya.

Segera Umar bergegas menemui sahabat pertama dan kedua yang ditemuinya. Ternyata keduanya pun telah menemui syahidnya karena pendarahan hebat dari luka-luka bekas  tebasan pedang.

Termenunglah Umar, bertafakur hati dan pikirannya, tanpa sadar mengalirlah air mata dari kedua sudut mata Umar. Bukan menangisi kepergian sahabat-sahabatnya untuk kembali ke haribaan Ilahi sebagi bunga-bunga syahid. Tetapi Umar benar-benar terharu akan persaudaraan ketiga sahabatnya tadi yang begitu mulya hatinya. Bagaimana bisa disaat mereka dalam kondisi kritis menderita dan memerlukan bantuan, masih  terfikir oleh mereka untuk mengutamakan keperluan saudaranya. Mereka saling mencintai dan bersaudara karena Alloh.

Seandainya saja, Umar bin Alkhatab hadir ditengah kita saat ini, barangkali beliau akan lebih menangis karena melihat kondisi saat ini bukan sebab keharuan tetapi karena melihat umat Islam yang saat ini nyaris kehilangan rasa cinta terhadap saudaranya.

Tengoklah bagaimana sesama kita saling berebut rejeki kursi jabatan dengan saling sikut dan mengahalalkan segala cara. Tengoklah dhuafa disekitar kita, kala terjadi pembagian sumbangan berupa zakat atau daging kurban meski mengantri berdesakan saling berhimpit dan bahkan ada yang mati terinjak menjadi korban.

Banyak diantara kita yang masih merasa selalu kurang sehingga mengabaikan nikmatnya berbagi. Apakah orang mampu saja yang dapat menikmati indahnya berbagi ?

Ternyata dalam kisah diatas tidak, dalam kesempitan, dalam kesulitan, dalam ketidak berdayaan ternyata berbagi lebih ni’mat jika didasari kecintaan kepada Alloh.

Melalui ibadah puasa dalam madrasah Ramadhon tahun ini, marilah kita latih diri dengan penuh kesungguhan hati dan jiwa, memeupuk rasa kepedulian kepada orang lain yang tengah kesulitan dan membutuhkan urulan tangan kita. Bukan hanya sibuk menyiapkan kebutuhan jasmani dengan menawarkan berbagai materi diri sendiri.

Sehingga kita semua berharap lulus dengan predikat fitri, kembali dengan bertambah berkali lipatnya ketaatan langsung kepada Ilahi maupun refleksinya kasih sayang kepada manusia lainnya. Kearifan bertindak dan keberpihakan kepada yang lebih membutuhkan tanpa harus ragu memberi.

Kita pun butuh untuk memikirkan dan membantu orang lain. Karena hakikat memberi dan berbagi niscaya tidak akan pernah rugi. Allah SWT berfirman, ;

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)

Selamat datang Ramadhan. Mari kita sambut dengan hati yang lapang, mengisi dengan amal dan ibadah terbaik agar Ramadhan tahun ini menjadi ladang pahala sebagai bekal menghadap ilahi Rabbi.

Wallahu ‘alamu bishowab.

Oleh dr. Mohamad Ridlo, MM

Leave a Reply