Afriza Wardani, Dari Peduli Limbah Hingga Pasien TB

Faktor usia tidak menjadi hambatan bagi Afriza Wardani (52) untuk selalu beraktifitas di luar rumah. Buktinya diusianya yang sudah tidak muda lagi, Riza begitu perempuan ini kerap disapa memiliki segudang aktifitas khususnya dibidang sosial masyarakat sekitarnya.

Riza masih nampak bersemangat melakukan setiap aktifitas yang dijalaninya. Selama ini ia bergelut dibeberapa bidang kegiatan sosial yang diawali melalui aktifitas pengajian mingguan di Masjid At Taubah Pamulang Tangerang Selatan.

Bersama delapan orang rekannya, Riza mendirikan Bank Sampah. Inisiasi ini dilakukan untuk memanfaatkan limbah rumah tangga yang bagi orang lain tidak berguna. Namun justru ditangan Riza dan rekan – rekan pengajiannya, limbah tersebut dapat menjadi produk yang bernilai ekonomi dan menghasilkan rupiah.

Semangatnya pun terus meningkat untuk saling membantu sesama, terlebih ketika melihat fenomena penyakit Tuberkulosis (TB) yang masih tinggi di Indonesia. Maka dengan suka rela dan atas ijin dari suaminya  ia mengajukan diri menjadi relawaan sebagai Kader TB Layanan kesehatan Cuma – Cuma (LKC) Dompet Dhuafa.

“Kita masih miris, kondisi penyakit TB di Indonesia bukannya semakin menurun, justru ini semakin meningkat” ungkap ibu yang sudah dikaruniai dua anak ini

Tak cukup berhenti disitu, demi lebih mendekatkan lagi fasilitas kesehatan khususnya bagi warga tidak mampu di Pondok Benda, Pamulang – Tangsel, Riza bersama rekan – rekannya yang memiliki visi sama, lalu mendirikan sebuah kegiatan pelayanan kesehatan secara gratis berupa Pos Sehat At – Taubah.

Untuk pos sehat kita bekerja sama dengan LKC, pos sehat ini kira-kira berdiri dari tahun 2007,” terang Riza kepada staf Media LKC Dompet Dhuafa saat ditemui disela-sela kesibukannya menjelang kegiatan di Pos Sehat.

Riza menyadari bahwa semua kegiatan yang dilakukannya tidak menghasilkan uang atau keuntungan materi lain bagi pribadinya. Hal ini diakui karena semua kegiatannya murni hanya untuk membantu masyarakat semata.

Terlebih Pos Sehat yang menjadi tempat ia mengabdi tidak melakukan pungutan biaya sepeserpun dari warga yang kurang mampu saat mendapatkan pelayanan kesehatan.  Bahkan tak jarang ketika si pasien memerlukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap dan membutuhkan dana, Pos Sehatlah yang membiayai pasien tersebut.

“Untuk operasionalnya kita galang dana dari warga komplek sini dan dari donatur lain yang peduli,” ungkap perempuan yang sehari – hari mengenakan jilbab ini.

Karena kepekaan dan kejeliannya dalam melihat setiap masalah, hingga akhirnya Riza di percaya oleh Pos Sehat At-Taubah menjadi petugas verifikasi dan survey. Perempuan yang juga memiliki sifat tegas ini mesti berusaha keras memilah dan memilih warga yang mengajukan bantuan. Sehingga mereka adalah orang – orang yang dinilai layak mendapatkan fasilitas layanan kesehatan gratis yang diberikan oleh Pos Sehat.

“Saya blusukan kerumah-rumah warga, saya lihat kondisi rumahnya layak atau tidak kita bantu, saya lakukan wawancara, dan jika saya temukan ada perilaku warga yang kurang baik dalam kesehariannya seperti merokok, maka saya wanti-wanti menyarankan untuk segera berhenti,” ungkap Riza mengakhiri wawancara.(gm/mj)

Leave a Reply