Momentum

Momentum. Ya, siapa tak kenal istilah ini. Definisi kata ini di kamus online adalah ‘saat yang tepat’ atau bisa juga ‘kesempatan’.  Satu kata yang menggambarkan kesempatan terbaik, yang bisa jadi hanya datang satu kali, sekali dia terlewat maka sulit mendapatkannya lagi.

Maka kehidupan itu sesungguhnya adalah momentum. Mengapa ? Karena kehidupan yang Allah anugerahkan kepada kita suatu saat akan berakhir, dan pada saat itulah momentum kita untuk berbuat kebaikan dan mengamalkan nilai-nilai kebenaran yang Allah turunkan, menjadi hilang.

Begitupun ketika kita sehat dan mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari dengan leluasa, sesungguhnya adalah momentum, karena kita tidak tahu sampai kapan kesehatan itu menyertai kita. Bisa jadi, dengan taqdir Allah, kesehatan itu Allah ganti dengan sakit yang parah. Pada saat itulah kita menyesal, mengapa tidak menggunakan waktu sehat  kita untuk beramal shalih. Malah kita mengisinya dengan hura-hura dan hal yang sia-sia. Sungguh indah Rasulullah SAW mengabadikan momentum kesehatan itu dalam sebuah sabdanya, “Dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai darinya (terlena) ;  nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Maka manusia yang tidak menyadari momentum waktu dan kehidupan ini, akhirnya menjadi orang yang sia-sia hidupnya, merugi dan tidak mendapatkan apa-apa, seperti  yang Allah gambarkan dalam surah Al Ashr : “Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, serta nasehat menasehati dalam kebenaran, dan nasehat menasehati dalam kesabaran.”

Sebaliknya, orang yang menyadari momentum ini, akan menjadi manusia yang menghargai waktu, sesempit apapun waktunya, menjadi hal yang bermanfaat untuknya.  Begitu perhatiannya kepada waktu hingga ia tak rela apabila ada waktu yang terbuang sia-sia tanpa diisi hal yang bermanfaat.

Kita diberi waktu hidup yang sama dalam sehari 24 jam. Tapi mengapa ada orang-orang yang dalam usia muda sudah bisa meraih kesuksesan, sementara sebagian yang lain belum ? Penyebabnya adalah : yang meraih keberhasilan lebih dulu, adalah yang pandai memanfaatkan waktu yang dimilikinya, yang menghargai momentum waktunya alias kehidupannya.  Di saat orang lain masih berfikir mencari kesenangan dan hura-hura,  orang seperti ini – di masa mudanya – justru sudah berfikir bagaimana meraih cita-cita dengan keseriusan, dan pantang menghabiskan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Maka adalah hal yang lumrah ketika ia mampu berprestasi sebagai hasil keseriusan dan kerja kerasnya.

Berapa banyak orang yang melepaskan ‘momentum’nya, menukarnya dengan harga yang murah atau sedikit, dan tidak merasa rugi sedikitpun. Orang seperti ini barulah menyadari kekeliruannya ketika bertemu dengan hidayah  Allah di dunia, atau siksa-Nya di kehidupan akhirat.

Jangan biarkan momentummu lewat, karena boleh jadi ia hanya datang satu kali dalam hidupmu yang pendek, yang berujung pada penyesalan tak terkira. Isilah kehidupan ini dengan kebaikan dan ketaatan, warnailah langkahmu dengan warna-Nya, lengkapilah ia dengan kehati-hatian dari hal yang diharamkan, dan curahkanlah seluruh potensi yang ada dalam dirimu untuk meninggikan kalimat-Nya. Maka insya Allah momentum itu ada dan bermakna.

 

Ditulis oleh Siti Rostina (Ka. Bagian SDI LKC Dompet Dhuafa)

Leave a Reply